Sejarah Singkat "Sasirangan"



Tanggal 2 Oktober di Indonesia selalu diperingati sebagai hari batik nasional. Setiap mendengar kata batik, yang terlintas di pikiran kita adalah kain khas Jawa yang telah terkenal hingga ke mancanegara. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama, di tiap daerah lainnya di Indonesia pasti memiliki kain tradisionalnya yang sejenis dengan batik.


Kalimantan Selatan, provinsi kelahiran saya, dihuni oleh mayoritas suku Banjar pun memiliki batik Kalimantan yang disebut “Sasirangan”. Sasirangan ini memiliki sejarah panjang dalam peradaban suku Banjar. Kain ini merupakan kain adat yang biasanya dipakai untuk acara adat khas suku Banjar.


Pada awalnya kain ini dipakai hanya untuk pengobatan dengan menggunakan bahan pewarna alami, dibuat oleh orang-orang terpilih, kain ini dijadikan media pengobatan atau “batatamba” bagi si sakit yang minta diobati secara tradisional. Itulah mengapa sasirangan ini juga disebut sebagai kain “pamintaan” karena biasanya dibuat berdasarkan pesanan (pamintaan) yang dibuat khususnya untuk mengusir roh-roh jahat dan melindungi diri dari gangguan makhluk halus.


Nenek moyang bangsa Indonesia pada tahun 1856 telah menggunakan Zat Pewarna Alam jauh sebelum Zat Pewarna Sintetis / Kimia digunakan.


Kain sasirangan diberi warna dengan zat pewarna yang dibuat dari bahan-bahan yang bersifat alami, yakni dibuat dari biji, buah, daun, kulit, atau umbi tanaman yang tumbuh liar di hutan atau sengaja ditanam di sekitar tempat tinggal para pembuat kain sasirangan itu sendiri.


Masing-masing bahan zat warna memiliki cara yang berbeda dalam pengerjaannya. Bisa melalui proses direct (langsung), fermentasi (pembusukan) atau melalui proses ekstraksi (direbus).